Ilmu Sosial Jadi “Mesin” Percepatan SDGs, FISH UNJ Jembatani Gap Riset dan Kebijakan
JAKARTA - Ketika Indonesia baru mencapai 61,4 persen indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) hingga 2024 dan pemerintah baru saja meresmikan 100 SDGs Center di berbagai kampus pada Juni lalu, satu pertanyaan mengemuka di kalangan akademisi: mengapa riset kampus yang melimpah belum cukup mempercepat capaian itu?, minggu (10/08/26).
Awal tahun ini, FISH UNJ menyelenggarakan workshop "Penerapan SDGs untuk Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Bidang Ilmu-ilmu Sosial", menghadirkan Dr. Suraya Abdulwahab Afiff, antropolog Universitas Indonesia, sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Dr. Suraya menyampaikan kritik yang jarang diungkap secara terbuka di ruang akademik: kesenjangan antara riset dan kebijakan publik di Indonesia bukan soal kekurangan data, melainkan soal budaya.
Pengambil kebijakan lebih terbiasa mendengar penjelasan lisan ketimbang membaca temuan riset ini merupakan sebuah pola yang membuat riset sosial, sekomprehensif apa pun sering berhenti di rak jurnal.
Bagi FISH UNJ, capaian institusional ini menjadi pembenaran atas argumen yang dibawa sejak awal: SDGs bukan sekadar agenda teknis milik ilmu eksakta, melainkan persoalan nilai, relasi kekuasaan, dan sistem kepercayaan yang menjadi wilayah kerja ilmu sosial.
Dr. Suraya, dalam paparannya, memperkenalkan kerangka visible, hidden, invisible power untuk membedah kebijakan pembangunan, yaitu pendekatan yang menempatkan analisis sosial sebagai prasyarat, bukan pelengkap, dari solusi teknis apa pun.
Urgensi tersebut menegaskan perlunya sistem yang menjaga capaian itu tetap terverifikasi dan berkelanjutan setiap tahun yang tidak hanya pada momen pemeringkatan.
Portal yang dikembangkan dirancang untuk mengotomasi pengumpulan data publikasi dosen, memetakan kontribusinya ke 17 kategori SDGs, dan menghasilkan dashboard IKU yang dapat langsung digunakan sebagai bahan pelaporan akreditasi maupun submission pemeringkatan internasional berikutnya.
"Tugas kampus bukan mengkritik berdasarkan klaim, tetapi berdasarkan data," tegas Dr. Suraya di hadapan dosen dan peneliti lintas program studi FISH UNJ. Ini adalah sebuah pesan yang kini bergema lebih luas seiring desakan nasional agar riset kampus benar-benar bertransformasi menjadi rekomendasi kebijakan, bukan berhenti sebagai laporan akademik.
Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, Ph.D., menyebut SDGs sebagai pintu masuk untuk merumuskan ulang keunggulan akademik fakultas secara lebih terarah.
"Keunggulan akademik perlu dirumuskan bersama supaya menjadi keunggulan lembaga," ujarnya. Sebuah visi yang kini selaras dengan arah nasional: menjadikan kampus sebagai mitra strategis pemerintah dalam mempercepat capaian SDGs sebelum tenggat 2030.